Kamis, 28 Januari 2010

Menggunakan AC dengan Tepat

Tips Menggunakan AC dengan Tepat


Kebutuhan akan AC di jaman sekarang ini sudah merupakan hal yang lazim. Melihat cuaca di kota-kota besar yang cenderung panas, keberadaan AC dalam sebuah ruangan merupakan hal yang cukup penting. Kinerja karyawan dan kepuasan konsumen pun akan bertambah jika prasarana ataupun fasilitas yang ada memadai. AC bisa jadi dinyalakan hampir seharian. Berikut ini adalah tip-tips untuk penggunaan AC dengan hasil yang optimal:
  1. Aturlah temperatur suhu AC pada batas yang wajar.
    Biasanya setelah seharian kepanasan di luar, beberapa orang ingin segera cepat-cepat merasakan kesejukan AC. Mereka cenderung menurunkan suhu ruangan, misalnya di angka -19 derajat Celcius. Hal ini sebenarnya tidaklah tepat untuk dilakukan sebab kinerja AC sendiri tidak maksimal. Apalagi di luar ruangan suhu mungkin mencapai 30 derajat Celcius. Idealnya Anda dapat mengatur suhu AC di angka -25 derajat Celcius saja. Dengan mengatur temperatur suhu AC yang tepat, dapat membantu menghemat listrik. Perubahan temperatur AC satu derajat saja dapat mempengaruhi pemakaian listrik hingga 10%.
  2. Bersihkan filter AC secara teratur.
    Salah satu faktor yang membuat AC tidak terasa dingin adalah adanya kotoran dalam filter yang menghambat aliran udara. Biasanya orang-orang berinisiatif dengan mengganti freon AC, padahal belum tentu itu penyebabnya. Sebaiknya filter AC dibersihkan secara teratur setiap dua minggu sekali.
  3. Lakukan servis AC secara berkala.
    Servis secara berkala dapat dilakukan agar AC dapat kembali bekerja secara maksimal. Selain itu, gunakanlah ruang yang berAC dengan benar, misalnya tidak membuka pintu, jendela, dan lain-lain agar udara panas tidak masuk ke dalam ruangan.
Semoga tips-tips tersebut dapat menjadi masukan yang berguna bagi Anda semua.

Menghindari HIV / AIDS

Tips Menghindari HIV / AIDS

Tanggal 1 Desember diperingati sebagai hari AIDS sedunia. Penyakit HIV/AIDS adalah salah satu penyakit mematikan yang sampai saat ini belum ditemukan obatnya. HIV/AIDS timbul karena perilaku manusia yang tidak sehat seperti seks bebas & narkoba. Sebenarnya penularan virus HIV/AIDS tidaklah mudah yakni melalui hubungan seks atau melalui jarum suntik, dan dapat juga melalui ibu kepada janinnya. Namun karena kekurangtahuan dan ketidakpedulian masyarakat, virus HIV/AIDS ini penyebarannya menjadi tidak terkontrol. Untuk itu ada baiknya kita menyimak tips-tips berikut ini agar terhindar dari HIV/AIDS.
  1. Hindari perilaku seks bebas, setialah pada pasangan masing-masing. Cara ini adalah cara yang paling baik daripada memakai kondom pada saat berhubungan. Perilaku seks bebas tidak hanya berpotensi menularkan HIV/AIDS, tetapi juga banyak penyakit menular lainnya.
  2. Pakailah kondom pada saat berhubungan seksual. Cara ini sebenarnya bukan sebagai alasan untuk bebas melakukan seks. Cara ini hanya untuk mengurangi resiko tertular.
  3. Hindari penggunaan jarum suntik bekas atau penyuntikan dengan satu jarum secara bergantian. Hal ini terutama sering terjadi di kalangan pengguna narkoba.
  4. Selalu waspada jika hendak melakukan transfusi darah. Periksa kembali jarum yang akan digunakan dan dari mana sumber darah yang akan ditransfusikan.
Cara-cara di atas diharapkan dapat meredam laju pertumbuhan virus HIV/AIDS yang sampai saat ini di seluruh dunia telah mencapai 25 juta kasus. Selain itu, jika di lingkungan kita terdapat penderita HIV/AIDS, cobalah untuk mengerti keadaan mereka, dan jangan mengucilkannya. Hal ini dapat membantu meringankan beban mereka dan menambah kesadaran akan bahaya HIV/AIDS pada diri kita semua.

Mencegah Kanker

Tips Hidup Sehat Mencegah Kanker


Belakang ini terutama di negara-neraga maju, sudah banyak orang yang menerapkan perilaku hidup sehat seiring dengan gerakan pencegahan kanker. Berikut ini langkah-langkah yang dianjurkan untuk mencegah timbulnya kanker:

  • Makan banyak sayur-sayuran, buah-buahan, biji-bijian seperti tempe, tahu dan makanan yang banyak mengandung serat. Paling tidak satu atau dua kali sehari mengkonsumsi sayuran hijau dan buah-buahan.
  • Hindari berat badan berlebihan atau kegemukan. Timbanglah berat badan 1 kali seminggu. Penelitian menunjukkan, akibat kegemukan, risiko terjadinya kanker lebih besar khususnya kanker payudara, rahim, usus besar, lambung, ginjal, serta kandung empedu.
  • Kurangi terlalu banyak makanan gorengan dan juga yang mengandung protein dan lemak tinggi serta jeroan.
  • Batasi makanan yang diolah dengan suhu tinggi dan lama atau dengan pengolahan tertentu yang dapat menimbulkan prokarsinogen seperti makanan yang diasinkan, diasap, dibakar, dipanggang sampai keluar arang (gosong) . Yang terbaik adalah makanan yang direbus.
  • Hati-hati dengan penggunaaan pemanis buatan, pewarna makanan serta zat pengawet yang berlebihan. Makanan terbaik adalah makanan segar.
  • Makanan dijaga kebersihannya, beraneka ragam, dan bebas dari zat cemaran lingkungan.
  • Sebaiknya tidak berlebihan mengkonsumsi minuman yang mengandung alkohol dan juga merokok
  • Kegiatan fisik dengan olahraga secara teratur disertai kesehatan mental dan rohani merupakan bagian terpadu dalam upaya pencegahan penyakit kanker.

Rabu, 27 Januari 2010

Waspadai Tulang Keropos pada Penderita Gangguan Ginjal


Waspadai Tulang Keropos pada Penderita Gangguan Ginjal

Ginjal merupakan organ yang

memegang peran penting dalam tubuh dan memiliki fungsi antara lain :

·

Membuang sisa

metabolisme dan air dari darah

Darah disaring dengan memisahkan sisa metabolisme dan air dari darah dan

membuangnya melalui urin. Ginjal membuang garam dan mineral lain dari darah dan

menyisakannya dalam jumlah yang sedikit sesuai dengan kebutuhan tubuh.

·

Menyeimbangkan cairan

tubuh

Dengan membuang garam dan mineral lain dari darah, tubuh sedang melakukan

proses yang dinamakan dengan homeostatis

atau menyeimbangkan cairan tubuh. Saat terdapat gangguan ginjal, keseimbangan

cairan ini sulit dijaga sehingga perlu pengaturan makanan dan minuman untuk

menjaga keseimbangan cairan.

·

Mengotrol tekanan

darah (TD)

Ginjal memproduksi Renin-angiotensin

(hormon untuk mengatur garam dan cairan yang disimpan dalam tubuh dan mengatur

kontraksi dan dilatasi dari pembuluh darah). Gangguan ginjal menyebabkan

terlalu banyak renin angiotensin sehingga meningkatkan TD. Saat TD tinggi

(hipertensi), jantung bekerja lebih keras untuk memompa darah.

·

Menghasilkan sel darah

merah

Ginjal sehat memproduksi eritropoetin (EPO), suatu hormon

yang berfungsi memstimulasi produksi sel darah merah. Sel darah merah ini

membawa oksigen ke seluruh tubuh. Tanpa adanya sel darah merah yang sehat, akan

menyebabkan anemia dimana tubuh menjadi lemas, lelah, dingin dan sesak nafas.

·

Menjaga tulang kuat dan sehat

Ginjal sehat menjaga tulang kuat dengan memproduksi

hormon calcitrol. Hormon ini berfungsi menjaga kadar kalsium dan fosfat dalam

range normalnya dalam darah dan tulang. Keseimbangan kedua senyawa ini sangat

penting. Saat terjadi gangguan ginjal, terjadi peningkatan kadar fosfat dalam darah (hiperfosfatemia). Hal ini

menyebabkan kalsium yang ada di tulang tertarik ke darah sehingga menyebabkan renal

bone disease (tulang menjadi rapuh). Selain itu juga dapat menyebabkan penumpukan kalsium di pembuluh darah (calcification), atau jaringan lunak

seperti paru-paru, mata dan jantung.

Bagaimana mengatasi kelebihan

fosfat dalam darah?

1. Dialisa, hanya mampu menghilangkan sebagian dari kelebihan fosfat tubuh.

2. Mengatur diit makanan

rendah fosfat, dianjurkan untuk mengkonsumsi <

800 mg fosfat per hari. Makanan/minuman yang

mengandung kadar fosfat tinggi seperti susu, coklat, keju, ice cream, kacang-kacangan,

sereal, kerang, dan hati.

3. Minum pengikat fosfat (phosphate binder), pengikat fosfat digunakan untuk

menghambat penyerapan fosfat dalam saluran percernaan. Pengikat fosfat diminum bersama makanan dan bekerja dengan berikatan secara

langsung dengan fosfat yang ada dalam makanan. Fosfat yang berikatan dengan

pengikat fosfat akan membentuk garam yang tidak larut dan dibuang melalui

feses.

Di Indonesia, suplemen kalsium merupakan pengikat fosfat

yang paling banyak digunakan. Suplemen kalsium contohnya adalah kalsium asetat

dan kalsium karbonat. Penggunaan kalsium asetat memiliki keuntungan lebih bagi

penderita gangguan ginjal. Kalsium asetat langsung ditelan dan tanpa dikunyah

sehingga penderita tidak perlu merasa tidak nyaman oleh rasa kapur. Kalsium

asetat memiliki kelarutan 10000x lebih besar dibandingkan dengan kalsium

karbonat sehingga dapat larut dengan cepat dan langsung berikatan dengan fosfat

makanan sehingga fosfat tidak terabsorpsi dalam tubuh. Selain itu kalsium

memudahkan penderita karena tidak perlu mengkonsumsi banyak tablet karena

kalsium asetat memiliki kemampuan mengikat fosfat 2x lebih besar dibandingkan

dengan kalsium karbonat. Selain itu menimbulkan efek samping hiperkalsemia

lebih rendah dibanding kalsium karbonat.

Sumber : www.singapore.renalinfo.com

www.jasn.asnjournals.org

www.nature.com/ki/journal

Label: ginjal

Mencegah dan Mengatasi Rambut Rontok

Mencegah dan Mengatasi Rambut Rontok

Rambut yang rontok adalah sesuatu yang bisa menimbulkan kekecewaan dan kekhawatiran bagi seorang wanita. Sebaliknya rambut yang indah akan menambah rasa percaya diri pada si pemilik rambut.

Lalu bagaimana cara merawat dan mengatasi rambat yang mulai rontok. Berikut tips yang dapat di terapkan untuk mengatasi kerontokan rambut :

  1. Makanlah makanan bergizi, terutama yang banyak mengandung protein dan zat besi. Protein sangat penting untuk pertumbuhan organ tubuh termasuk rambut. Sumber protein utama berasal dari ikan, telur, kacang kacangan, yogurt, kedelai dan lain lain.
  2. Oleskan kondisioner yang mengandung ginseng agar rambut sehat berkilau dan tidakmudah patah.
  3. Selagi Anda memakai kondisioner, sisirlah rambut dengan sisir bergigi jarang. Fungsinya agar rambut tidak kusut saat dibilas.
  4. Pilih sampo herbal atau sampo yang ekstra ringan agar kulit kepala lebih nyaman.
  5. Hindari menggunakan air panas saat keramas. Gunakan air dingin atau hangat kuku.
  6. Keringkan rambut tanpa hairdryer dan juga jangan pakai handuk. Rambut yang dikucek-kucek dengan handuk akan mudah tercabut dari akarnya karena kulit kepala sangat lembab. Rambut cukup diangin-anginkan saja.
  7. Pakaikan hair tonic atau serum untuk menyuburkan rambut. Hair tonic yang mengandung ginseng bagus untuk merangsang pertumbuhan rambut baru.
  8. Sebisa mungkin hindari minuman yang mengandung kafein karena tidak baik bagi pertumbuhan rambut.
  9. Keramaslah dengan sampo yang mengandung ginseng, yang berfungsi membersihkan rambut dari segala kotoran dan menguatkan batang rambut sehingga tidak mudah patah.
  10. Gunakan masker rambut sebagai nutrisi untuk merawat dan memulihkan kesehatan dan keindahan rambut. Pakai 2-3 kali seminggu.
  11. Kurangi penggunaan gel rambut, krim, minyak rambut, pewarna rambut dan spray rambut. Sebaiknya gunakanlah produk yang terbuat dari bahan alami.
  12. Jika rambut masih terjadi kerontokan terus, periksakan ke dokter ahli dermatologi.
Label: rambut, rontok

Tips Agar Tidur Nyenyak Tanpa Dengkuran

Tips Agar Tidur Nyenyak Tanpa Dengkuran

Orang yang tidurnya mendengkur, terlebih pendengkur berat, tidak akan pernah jadi pria yang disukai oleh mereka yang tidur satu ruangan dengannya. Nah, sebelum keluarga atau teman semakin menjauhi Anda, cobalah ikuti saran-saran berikut untuk mengusir "suara gergaji" selamanya.


- Matikan rokok

Asap rokok membuat jaringan-jaringan, baik di tenggorokan maupun hidung mengalami iritasi, sampai bengkak dan menyumbat aliran udara.


- Pertahankan berat ideal

Walaupun orang kurus juga bisa mendengkur, namun mendengkur tiga kali lebih sering dialami oleh mereka yang berbadan gemuk.

- Hindari alkohol

Alkohol menyebabkan otot-otot dalam jalan napas menjadi terlalu santai sehingga kemungkinan mendengkur saat tidur semakin besar. Begitu pula obat-obatan penenang atau obat tidur. Sebaiknya hindari minum alkohol 4 jam sebelum tidur.

- Posisi tidur

Tidur dengan posisi miring sangat dianjurkan untuk mengurangi kemungkinan mendengkur, dibanding posisi telentang. Pada saat tidur telentang, lidah akan tertarik ke belakang dan menghambat pernapasan sehingga menimbulkan dengkur.

- Naikkan posisi kepala dan pundak

Tidur dengan posisi bagian atas lebih tinggi daripada bagian bawah dapat membantu mencegah dengkur karena dalam posisi demikian lidah tidak akan "jatuh" menutup jalan napas. Akan tetapi jangan mengganjal kepala Anda dengan tumpukan bantal karena akan membuat pegal dan tenggorokan tertekuk sehingga suara dengkuran semakin kencang. Sebagai gantinya, angkatlah bagian kepala tempat tidur atau ganjal kaki tempat tidur bagian kepala agar posisinya naik 10-13 cm.

Bila upaya-upaya penanggulangan yang dilakukan sendiri tidak berhasil, Anda mungkin memerlukan prosedur medis. Kini di banyak negara di dunia mulai menerapkan prosedur implan pilar sebagai alternatif.

Dalam prosedur ini tiga implan (seperti potongan tusuk gigi) sepanjang 3 cm di sisipkan di bagian belakang langit-langit lunak rongga mulut. Gunanya untuk mengurangi getaran jaringan lunak rongga mulut dan tenggorokan, penyebab bunyi dengkuran.

Minggu, 24 Januari 2010

10 HAL TENTANG ANTIBIOTIKA

10 HAL TENTANG ANTIBIOTIKA


Antibiotika tentu bukan sesuatu yang asing. Namun, bagaimana antibiotika selayaknya digunakan, tak semua orang tahu.

1. Apa sebetulnya manfaat antibiotika?

Antibiotika adalah senyawa kimia yang dibuat untuk melawan bibit penyakit, khususnya kuman. Ada beragam jenis kuman, ada kuman yang besar, ada yang kecil, dengan sifat yang beragam pula.

Kuman cenderung bersarang di organ tertentu di tubuh yang ditumpanginya. Ada yang suka di otak, di paru-paru, di usus, saraf, ginjal, lambung, kulit, atau tenggorok, dan lainnya. Di organ-organ tempat bersarangnya itu, kuman tertentu menimbulkan infeksi. Kuman tipus menimbulkan penyakit tipus di usus, kuman TBC di paru-paru, selain bisa juga di tulang, ginjal, otak, dan kulit. Kuman lepra di saraf dan kulit, kuman difteria di tenggorokan, tetanus di saraf, dan banyak lagi
Awalnya, ditemukan jenis antibiotika penisilin, lalu sulfa, yang digunakan untuk mengobati semua penyakit infeksi. Sekarang, sudah berpuluh-puluh jenis antibiotika ditemukan, baik dari rumpun yang sama, maupun dari jenis yang lebih baru. Setiap antibiotika memiliki kemampuannya sendiri dalam melawan kuman. Itu sebab, setiap rumpun kuman memiliki penangkalnya masing-masing yang spesifik. Namun, kebanyakan antibiotika bersifat serba mempan atau broadspectrum. Artinya, semua kuman dapat dibasminya.
Selain itu, ada pula jenis antibiotika yang sempit pemakaiannya, spesifik hanya untuk kuman-kuman tertentu saja. Misalnya, antibiotika untuk kuman TBC (mycobacterium tuberculosis), untuk lepra atau kusta (mycobaterium leprae), atau untuk tipus (salmonella tyhphi).

2.Kapan antibiotika digunakan?
Antibiotika digunakan jika ada infeksi oleh kuman. Infeksi terjadi jika kuman memasuki tubuh. Kuman memasuki tubuh melalui pintu masuknya sendiri-sendiri. Ada yang lewat mulut bersama makanan dan minuman, lewat udara napas memasuki paru-paru, lewat luka renik di kulit, melalui hubungan kelamin, atau masuk melalui aliran darah, lalu kuman menuju organ yang disukainya untuk bersarang.

Gejala umum tubuh terinfeksi biasanya disertai suhu badan meninggi, demam, nyeri kepala, dan nyeri. Infeksi di kulit menimbulkan reaksi merah meradang, bengkak, panas, dan nyeri. Contohnya bisul. Di usus,
bergejala mulas, mencret. Di saluran napas, batuk, nyeri tenggorok, atau sesak napas. Di otak, nyeri kepala. Di ginjal, banyak berkemih, kencing merah atau seperti susu.

Namun, gejala suhu tubuh meninggi, demam, nyeri kepala, dan nyeri, bisa juga bukan disebabkan oleh kuman, melainkan infeksi oleh virus atau parasit. Dari keluhan, gejala dan tanda, dokter dapat mengenali apakah infeksi disebabkan oleh kuman, virus, atau parasit.

Penyakit yang disebabkan bukan oleh kuman tidak mempan diobati dengan antibiotika. Untuk virus diberi antivirus, dan untuk parasit diberi antinya, seperti antimalaria, antijamur, dan anticacing. Jika infeksi oleh jenis kuman yang spesifik, biasanya dokter langsung memberikan antibiotika yang sesuai dengan kuman penyebabnya. Misal bisul di kulit, tetanus, difteria, tipus, atau infeksi mata merah.

Untuk infeksi yang meragukan, diperlukan pemeriksaan khusus untuk memastikan jenis kuman penyebabnya. Caranya dengan melakukan pembiakan (kultur) kuman. Bahan biakannya diambil dari darah atau air liur, dahak, urine, tinja, cairan otak, nanah kemaluan, atau kerokan kulit.

Dengan biakan kuman, selain menemukan jenis kumannya, dapat langsung diperiksa pula jenis antibiotika yang cocok untuk menumpasnya (tes resistensi). Dengan demikian, pengobatan infeksinya lebih tepat. Jika tidak dilakukan tes resistensi, bisa jadi antibiotika yang dianggap mampu sudah tidak mempan, sebab kumannya sudah kebal terhadap jenis antibiotika yang dianggap ampuh tersebut.

3.Kenapa semakin banyak kuman yang kebal antibiotika?
Pemakaian antibiotika di negara-negara sedang berkembang sering tidak terkontrol dan cenderung serampangan. Antibiotika yang bisa dibeli bebas, ketidaktahuan pemakaian, dan tidak dipakai sampai tuntas, menimbulkan generasi kuman yang menjadi kebal (resisten) terhadap antibiotika yang digunakan secara tidak tepat dan serampangan itu. Pemakaian antibiotika yang tidak dihabiskan, atau menebusnya setengah resep, misalnya.

Semakin sering dan banyak disalahgunakan suatu antibiotika, semakin cepat menimbulkan kekebalan kuman yang biasa ditumpasnya. Pemakaian antibiotika golongan erythromycine yang paling banyak dan luas dipakai di dasawarsa 80-an, semakin banyak melahirkan generasi kuman yang kebal terhadapnya. Lalu, dibuat generasi baru dari rumpun yang sama. Setiap beberapa tahun, lahir jenis generasi antibiotika baru untuk membasmi jenis kuman yang sudah kebal. Tentu, dengan harga yang lebih mahal.

4.Apa efek samping antibiotika?
Seperti obat umumnya, antibiotika juga punya efek samping masing-masing. Ada yang berefek buruk terhadap ginjal, hati, ada pula yang mengganggu keseimbangan tubuh. Dokter mengetahui apa efek samping suatu antibiotika, sehingga tidak diberikan pada sembarang pasien. Pasien dengan gangguan hati, misalnya, tidak boleh diberikan antibiotika yang efek sampingnya merusak hati, sekalipun ampuh
membasmi kuman yang sedang pasien idap. Dokter perlu memilihkan antibiotika lain, mungkin kurang ampuh, namun tidak berefek pada hati.

Namun, jika suatu antibiotika tidak ada penggantinya, antibiotika tetap dipakai, dengan catatan, bahaya efek samping pada seorang pasien memerlukan monitoring oleh dokter, jika dipakai untuk jangka waktu yang lama. Antibiotika untuk TBC, misalnya, yang diminum sedikitnya 6 bulan, perlu pemeriksaan fungsi hati secara berkala, agar jika sudah merusak hati, obat dipertimbangkan untuk diganti.

5.Apa bahaya terlalu sering menggunakan antibiotika?
Pemakaian antibiotika yang terlalu sering tidak dianjurkan. Di negara kita, orang bebas membeli antibiotika dan memakainya kapan dianggap perlu. Sedikit batuk pilek, langsung minum antibiotika. Baru mencret sekali, langsung antibiotika. Padahal belum tentu perlu. Kenapa?

Belum tentu batuk pilek disebabkan oleh kuman. Awalnya oleh virus. Jika kondisi badan kuat, penyakit virus umumnya sembuh sendiri. Yang perlu dilakukan pada penyakit yang disebabkan oleh virus adalah
memperkuat daya tahan tubuh dengan cukup makan, istirahat, dan makanan bergizi. Pemberian antibiotika pada batuk pilek yang disebabkan oleh virus hanya merupakan penghamburan dan merugikan badan, sebab memikul efek samping antibiotika yang sebetulnya tak perlu terjadi.

Kasus batuk pilek virus yang sudah lama, yang biasanya sudah ditunggangi oleh kuman, baru membutuhkan antibiotika untuk membasmi kumannya, bukan untuk virus flunya. Tanda batuk pilek membutuhkan antibiotika adalah dengan melihat ingusnya. Yang tadinya encer bening sudah berubah menjadi kental berwarna kuning-hijau. Selama ingusnya masih encer bening, antibiotika tak diperlukan.

Minum antibiotika kelewat sering juga mengganggu keseimbangan flora usus. Kita tahu, dalam usus normal tumbuh kuman yang membantu pencernaan dan pembentukan vitamin K. Selain itu, di bagian-bagian tertentu tubuh kita juga hidup kuman-kuman jinak yang hidup berdampingan dengan damai dengan tubuh kita. Di kemaluan wanita, di kulit, di mulut, dan di mana-mana bagian tubuh ada kuman yang tidak mengganggu namun bermanfaat (simbiosis).

Terlalu sering minum antibiotika berarti membunuh seluruh kuman jinak yang bermanfaat bagi tubuh. Jika populasi kuman jinak yang bermanfat bagi tubuh terbasmi, keseimbangan mikroorganisme tubuh bisa terganggu, sehingga jamur yang tadinya takut oleh kuman-kuman yang ada di tubuh kita berkesempatan lebih mudah menyerang.

Itu maka, banyak orang yang setelah minum antibiotika yang kelewat lama, kemudian terserang penyakit jamur. Bisa jamur di kulit, usus, seriawan di mulut, atau di mana saja. Keputihan sebab jamur pada wanita, antara lain lantaran vagina kelewat bersih oleh antisepsis yang membunuh kuman bermanfaat di sekitar vagina (Doderlein).


6.Berapa lama seharusnya konsumsi antibiotika?
Lama pemakaian antibiotika bervariasi, tergantung jenis infeksi dan kuman penyebabnya. Paling sedikit 4-5 hari. Namun, jika infeksinya masih belum tuntas, antibiotika perlu dilanjutkan sampai keluhan dan gejalanya hilang. Pada tipus, perlu beberapa minggu. Demikian pula pada difteria, tetanus. Pling lama pada TBC yang memakan waktu berbulan-bulan. Termasuk pada kusta.

Pada infeksi tertentu, setelah pemakaian antibiotika satu kir, perlu dilakukan pemeriksaan biakan kuman ulang untuk memastikan apakah kuman sudah terbasmi tuntas. Infeksi saluran kemih, misalnya, setelah selesai satu kir antibiotika dan keluhan gejalanya sudah tiada, biakan kuman dilakukan untuk melihat apa di ginjal masih tersisa kuman. Jika masih tersisa kuman dan antibiotikanya tidak dilanjutkan, penyakit infeksinya akan kambuh lagi.

Termasuk pada infeksi gigi. Sakit gigi biasanya disebabkan oleh adanya kuman yang memasuki gusi dan tulang rahang melalui gigi yang bolong atau keropos. Dalam keadaan demikian, gusi membengkak dan gigi nyeri. Antibiotika diberikan sampai keluhan nyeri gigi hilang. Jika antibiotika hanya diminum sehari-dua, kuman di dalam gusi belum mati semua, sehingga infeksi gusi dan sakit gigi akan kambuh lagi.


7.Kenapa antibiotika bisa tidak mempan?
Antibiotika tidak mempan karena dua hal. Yang paling sering, kuman penyebab penyakitnya sudah kebal terhadap antibiotika tersebut. Untuk itu perlu dicari antibiotika jenis lain yang lebih sensitif. Biasanya perlu dilakukan tes resistensi mencari jenis antibiotika yang tepat.

Yang kedua karena tidak dilakukan tes resistensi dulu dan langsung diberikan antibiotika secara acak, sehingga kemungkinan pilihan antibiotikanya tidak tepat untuk jenis kuman penyebab penyakitnya. Antibiotikanya memang tidak mempan terhadap kuman penyebabnya.

Kita mengenal ada kuman jenis gram-negatif. Untuk itu perlu antibiotika untuk jenis kuman itu. Jika diberikan antibiotika untuk jenis kuman gram-positif, tentu tidak akan mempan, sebab antibiotikanya salah sasaran. Atau bisa oleh karena infeksinya bukan disebabkan oleh kuman, melainkan oleh virus atau parasit. Jamur kulit tak mempan diberi salep atau krim antibiotika, misalnya.


8.Apa artinya antibiotika yang keras?
Artinya tidak perlu antibiotika dari generasi yang baru, kalau dengan antibiotika klasik (golongan penicillin) masih mempan. Namun, untuk infeksi ringan saja (flu), seringkali diberikan antibiotika generasi mutakhir. Selain jauh lebih mahal, tubuh pun memikul efek samping yang biasanya lebih berat. Semakin ampuh antibiotika, biasanya semakin keras pula efek sampingnya. Membunuh lalat tak perlu pakai panah, cukup ditepuk. Begitu pula untuk infeksi enteng. Kalau bisa, jangan lekas-lekas memakai antibiotika. Tubuh kita memiliki perangkat antibodi. Setiap bibit penyakit, apa pun jenisnya, yang masuk ke dalam tubuh, akan dibasmi oleh sistem kekebalan tubuh sendiri. Tubuh baru menyerah kalah jika bibit penyakitnya sangat ganas, jumlahnya banyak, dan daya tahan tubuh sedang lemah.

Tidak setiap kali dimasuki bibit penyakit, tubuh kita akan jatuh sakit. Jika kekebalan tubuh prima, bibit penyakit yang sudah memasuki tubuh akan gagal menginfeksi, dan kita batal jatuh sakit. Infeksi umumnya baru terjadi jika tubuh sedang lemah. Untuk itu, perlu bantuan zat anti yang dikirim dari luar. Kiriman zat anti dari luar itulah yang diperankan oleh antibiotika.


9.Kenapa orang bisa pingsan usai minum atau disuntik antibiotika?
Adakalanya, sehabis minum atau disuntik antibiotika bisa pingsan. Orang-orang tertentu yang berbakat alergi, umumnya tidak tahan terhadap antibiotika golongan penisilin, baik yang diminum maupun yang disuntikkan. Beberapa menit sampai beberapa jam sesudahnya muncul reaksi alergi. Rasa tebal dan gatal di bibir, pusing, mual, muntah, lalu pingsan. Jika ringan hanya gatal-gatal mirip biduran. Reaksi hebat bisa menimbulkan reaksi kulit melepuh, berbisul-bisul (Steven-Johnson syndrome).

Bagi yang berbakat alergi, perlu dites dulu sebelum mendapat suntikan antibiotika golongan penisilin. Jika positif, jangan diberikan. Atau jika pernah ada riwayat gatal sehabis minum atau disuntik antibiotika, buatlah catatan, agar lain kali dapat mengingatkan dokter kalau tidak tahan antibitioka tersebut. Sekarang reaksi alergi terhadap antibiotika sudah jarang terjadi, sebab tersedia banyak pilihan antibiotika yang lebih unggul dari penisilin tanpa risiko alergi.


10. Apakah semua antibiotika hanya untuk diminum?
Tidak. Selain dalam bentuk obat minum (oral), ada juga dalam bentuk suntikan (parenteral), salep, krim, supositoria (dimasukkan ke liang dubur atau vagina); lotion, dan tetes. Infeksi kulit memakai salep atau krim antibiotika, infeksi mata merah memakai tetes atau salep mata, infeksi telinga tengah memakai tetes kuping antibiotika, keputihan kuman dipakai antibiotika berbentuk peluru yang dimasukkan ke dalam vagina (bagi yang sudah menikah, tidak buat yang masih gadis).

Antibiotika streptomycine, garamycine, hanya dalam bentuk suntikan, tidak tersedia dalam bentuk tablet atau kapsul. Sebaliknya, kebanyakan antibiotika yang diminum belum tentu ada dalam bentuk suntikannya. Tapi, ada juga antibiotika baik dalam bentuk suntikan maupun yang diminum.

Membubuhi serbuk antibiotika pada lubang gigi yang sakit seperti kebiasaan sementara orang atau pada luka, tidak terlalu tepat. Efek penembusan antibiotika ke jaringan gusi yang terinfeksi tidak sebaik jika diminum, atau bisa menyerap optimal seperti antibiotika yang sudah dalam bentuk salep atau krim jika untuk dipakai pada kulit
(Sumber : Dr. Handrawan Nadesul/ Internet)